Ahlan wasahlan.. di blognya Setyo

Renungan Malam “Sehat dan Sakit”

Jam netbook menunjukkan pukul 23.50, dengan mata yang mulai memerah.. ak harus tetap terjaga dari tidur… lho kenapa? Jadi ceritanya, mbakku sakit, dan harus opname di salah satu Rumah Sakit Daerah, karena mbkku sudah menikah otomatis yg jaga suaminya, jadi jika jam malam seperti ini kita (ak dan mas iparku) bergantian jaga, nah obat ngantuk ternyata salah satunya dengan membaca artikel kajian (lama-lama ngantuk juga sii J …). Sembari menungu dan menjaga infus yang menggantung di tiang setinggi 150-an cm, jadi jika infusnya habis tinggal lapor sama susternya.

Ditemani bias cahaya bulan dan nyanyian hewan malam bersama sepi yang menggelayut hati, eh bukan, sepi yang menggelayut sunyi.. (#sok puitis) aku coba untuk sedikit merenungkan tentang hal yang besar.. apa itu? Sabar… masih prolog..

Berbicara tentang rumah sakit, yang terbayang dalam benak kita yang pertama apa? Yaa orang sakit, sesuai namanya. Disamping ada peralatan-peralatan medis yang bagiku itu sangat menyeramkan, contoh: jarum suntik, woow amit-amit liat benda itu, ada bau-bau obat, dan segala hal tentang dunia medis. Yak kembali ke topik pembicaraan kali ini, terkait orang sakit yaa… apa yang terpikirkan pertama kali dalam benak kita tentang orang sakit atau tentang sakit itu sendiri? Pasti nggak enak to? Menyakitkan? Sesuatu yang kadang ketika datang membuat diri ini merasa tidak nikmat, benar…, lawan sakit adalah sehat, dan sehat adalah sesuatu yang sering melalaikan kita..

Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia –termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Ibnu Baththol mengatakan, ”Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.”

Ibnul Jauzi mengatakan, ”Terkadang manusia berada dalam kondisi sehat, namun ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan urusan dunianya. Dan terkadang pula seseorang memiliki waktu luang, namun ia dalam kondisi tidak sehat. Apabila terkumpul pada manusia waktu luang dan nikmat sehat, sungguh akan datang rasa malas dalam melakukan amalan ketaatan. Itulah manusia yang telah tertipu (terperdaya).”Image

Bila ada yg mau merenunginya:

Ibnul Jauzi juga mengatakan nasehat yang sudah semestinya menjadi renungan kita, “Intinya, dunia adalah ladang beramal untuk menuai hasil di akhirat kelak. Dunia adalah tempat kita menjajakan barang dagangan, sedangkan keuntungannya akan diraih di akhirat nanti. Barangsiapa yang memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat dalam rangka melakukan ketaatan, maka dialah yang akan berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa memanfaatkan keduanya dalam maksiat, dialah yang betul-betul tertipu. Sesudah waktu luang akan datang waktu yang penuh kesibukan. Begitu pula sesudah sehat akan datang kondisi sakit yang tidak menyenangkan.”[1]

Nah jadi bersyukurlah saudaraku.. yang masih diberi nikmat sehat dan waktu senggang.. jangan sia-siakan, ingat5 perkara sebelum 5 perkara..

Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)

Semoga bermanfaat…

Wallahua’lam..

Sumber rujukan: http://www.gensalaf.net/?p=584

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s