Ahlan wasahlan.. di blognya Setyo

Kuliah Enaknya Sambil Ngapain Yaaa?


Oleh: Yusuf Aljogjawi

ImageSambil menikmati suasana malam yang hening, fii aina? Fiil masjid, kutuangkan sedikit uneg-uneg dalam fikiran, sebuah pertanyaan yang mungkin dilontarkan oleh calon mahasiswa atau mungkin mahasiswa yang sedang menemukan kesunyian, kejenuhan, kesepian dalam aktivitasnya. Ini pertanyaannya:  “Kuliah enaknya sambil ngapain ya??”

Sambil nikah?? Sambil santai? Sambil kesana-kesini sok sibuk (baca; jadi aktivis) atau sambil jadi pengusaha atau memulai usaha??

Yup… mari kita bahas…

untuk jawaban yang pertama (sambil nikah). Mungkin bisa aja dijalani oleh mereka yang sudah mapan? Tapi jika uang aja masih minta ortu? Weee jangan dulu…

Sebab nikah ada hukum-hukumnya juga… Bagi seseorang yang mengkhawatirkan dirinya akan jatuh dalam perbuatan zina bila tidak menikah, maka hukum nikah baginya beralih menjadi wajib karena syahwatnya yang kuat. Ditambah lagi bila di negerinya bebas melakukan hubungan zina (liat negeri kita). Hukum nikah baginya menjadi wajib untuk menolak mafsadat tersebut. Karena meninggalkan zina hukumnya wajib, dan kewajiban tersebut tidak akan sempurna penunaiannya kecuali dengan nikah.
Hukumnya mubah bagi orang yang tidak bersyahwat namun ia memiliki kecukupan harta. Mubah baginya karena tidak ada sebab-sebab yang mewajibkannya.
Adapun orang yang tidak bersyahwat dan ia fakir, nikah dimakruhkan baginya. Karena ia tidak punya kebutuhan untuk menikah dan ia akan menanggung beban yang berat. Namun terkadang pada orang yang lemah syahwat atau tidak memiliki syahwat ini, karena usia tua atau karena impoten misalnya, diberlakukan hukum makruh tanpa membedakan ia punya harta atau tidak. Karena ia tidak dapat memberikan nafkah batin kepada istrinya, sehingga pada akhirnya dapat memudaratkan si istri.
Dan haram hukumnya bila orang itu benar-benar tidak dapat menunaikan perkara-perkara yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga. Karena, menikah disyariatkan semata-mata untuk memberikan maslahat. Kalau ada tindakan aniaya seperti ini, akan hilanglah maslahat yang diharapkan, terlebih lagi jika dia berbuat dosa dan melakukan perkara-perkara yang diharamkan..

Nah.. teruntuk orang yang belum mampu (memberi nafkah) dan pengen nikah.. jangan dulu.. lebih baik puasa.. karena dengan puasalah syahwat akan terusir..

Untuk jawaban kedua, sambil santai… ini dia orang-orang yang tidak punya visi misi yang jelas, hidupnya santai, mengikuti aliran air, walaupun ternyata air itu mengalir ke tanah alias merembes, mampus deh.. so, milikilah target, visi misi yang jelas dalam hidupmu..

Apalagi kamu yang mengaku muslim sejati, tidak selayaknya hidup ini di isi dengan santai dan santai, sia-sialah hidupmu… eman-eman tenan, miliklah target-target, mimpi, yang menjadi penyemangat dalam hidupmu, lalu apa target terbesar seorang muslim? Hanya satu; Berjumpa dengan Allah di Surga! Kemudian implikasinya dalam kehidupan akan menjadi jelas, setiap waktu, setiap pekerjaan akan kita hubungan dengan target tersebut, sehingga setiap amal akan bernilai ibadah..

Untuk jawaban yang ketiga…? ini dia, oya siapa yang enggak kenal fulan, ketua bla bla bla… dan siapa yang nggak kenal fulanah.. wakil ketua bla bla bla.. maksudnya? Ya itu, disana mesti ada yang namanya ketenaran, ini satu sisi yang bsa menjadi bumerang bagi diri kita, bisa memunculkan kesombongan, ingin dipandang, dan merasa-merasa yang lain yang bisa mengotori jiwa… ups! Bukan berarti menjadi aktivis itu salah, justru… menjadi aktivis juga merupakan wujud kepedulian kita dengan orang lain, kita bermuammalah.. tapi liat juga dong kita aktiv dalam hal apa disana? aktiv menyumbang maksiat atau aktiv memberi nasehat? J

Yak, tentu dalam kita berorganisasi, akan lebih bermanfaat jika kita menebar kebaikan, memberi kemashlahatan, menyampaikan kebenaran. Untuk topik ini saya persempit aja, saya batasi aja permasalahannya pada aktivis bidang kerohanian; aktivis dakwah. Karena penulis pun masuk didalamnya J nah kalam-kalam (ngomong-ngomong).. Banyak para aktivis dakwah yang begitu bersemangat dalam dakwah tapi lupa dengan kondisi dirinya, lupa dengan kondisi imannya, lupa tidak dicharger, alhasil? Amburadul lah dirinya.. maksudya.. sebagai seorang aktivis dakwah, hal yang tentu harus diperhatikan adalah kapasitas ilmunya, mau berdakwah tapi tidak tau yang disampaikan itu sudah benar atau belum.. nah, lalu gimana dong caranya? Yaa belajar, ikuti majlis ilmu, dan jangan salah tempat duduk (majis), malah bisa lebih berbahaya..

Untuk jawaban keempat.. sambil jadi pengusaha.. Wuuiiz… kalo ini mantap, kemana-mana bawanya dollar, hehe.. pengen apa? Pengen pacar? Pengen traktir teman? Pengen jalan-jalan? Atau pengen mati???? Hehe.. (bercanda lho)

Jadi pengusaha sambil kuliah.. mau sii.. tapi gimana caranya? Caranya gimana? Usaha apa?

Kan banyak jalan kawan (yang halal), asal ada kemauan dalam diri kita, kalo belum apa-apa sudah mengeluarkan banyak alasan untuk membatasi iri sendiri. Misalnya: nanti saya bangkrut, saya ndak punya banyak waktu, sibuk di kampus, malu ah.., bla bla bla.. banyak alasan untuk mengatakan tidak pada berwirausaha..

Jadi langkah awalnya yaitu buang dulu alasan-alasan yang masih menempel pada dirimu itu, setelah itu, fikirkan kita mau usaha apa? Sesuai hobi lebih baik, misalkan kesukaan saya pada batik (karena asli saya dari Kota Pekalongan), maka saya berwirausaha dengan jualan batik, saya suka, sehingga saya selalu punya semangat. Artinya ciptakanlah usaha atau pekerjaan jika lingkupnya luas, yang sesuai dengan kesukaan atau minat kita, bisa ngelesi, jualan makanan, jualan ini, itu.. yang penting halal ya!!

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung, yang pergi di awal siang (pagi hari) dalam keadaan perut kosong (lapar) dan pulang di akhir siang (sore hari) dalam keadaan perut penuh berisi (kenyang).” (HR. Ahmad no.205, At-Tirmidziy no.2344 dari ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, lihat Ash-Shahiihah no.310)
Sabda beliau: “dengan sebenar-benarnya tawakkal kepada-Nya” artinya bertawakkal secara hakiki yaitu kalian bersandar kepada Allah dengan penyandaran yang sempurna dalam mencari rizki kalian dan dalam hal lainnya.
Dan sabdanya: “niscaya Dia akan memberikan rizki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung” menunjukkan bahwa rizki burung telah ditanggung oleh Allah, karena burung tersebut adalah binatang yang terbang bebas, tidak ada yang memilikinya. Lalu dia keluar dari sarangnya, terbang di udara dan mencari rizki Allah.
Burung tersebut keluar dalam keadaan tidak ada sesuatu pun di perutnya, akan tetapi dia bertawakkal kepada Rabbnya ‘Azza wa Jalla. Kemudian dia kembali ke sarangnya dalam keadaan perut penuh berisi dari rizki Allah.
Di dalam hadits ini terdapat dalil atas beberapa masalah:
Pertama: Bahwasanya selayaknya bagi manusia untuk bersandar kepada Allah dengan sebenar-benarnya penyandaran.
Kedua: Bahwasanya tidak ada satu makhluk pun di bumi kecuali rizkinya telah Allah jamin sampai pun burung yang terbang di udara, yang tidak ada yang menahannya di udara kecuali Allah dan tidak ada yang memberinya rizki kecuali Allah.
Semua binatang melata di bumi dari yang terkecilnya seperti semut yang kecil sampai yang terbesarnya seperti gajah dan yang sejenisnya, semuanya telah Allah tanggung rizkinya. Allah berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأَرْضِ إِلاَّ عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang menanggung rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Huud:6)

Itu sebagai motivasinya, insyaAllah ketika ada kemauan, niat yang bersih, Allah pasti memberi kita jalan dalam berwirausaha.. ma’annajah..

Jawaban dari saya sendiri, apa?? Bagaimana jika semuanya itu pelan-pelan kita gabungkan saja! Kita kuliah, menjadi aktivis, disamping itu kita juga berwirausaha, dan sesekali kita santai, kemudian jika sudah berjalan dengan baik, kita sudah tidak lagi meminta uang sama orangtua, punya penghasilan, mulai deh memikirkan jodoh, dapat, trus nikah deh… segitunya? Hehe.. emang gak boleh? Boleh-boleh saja.. karena semuaya itu saling berkaitan.. tapi jangan keburu-buru nikah yaa!! Ngaji dulu! Cari ilmu, apalagi laki-laki. Ketika menjadi pemimpin keluarga, akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keluarganya, seorang suami harus mampu mengarahkan istrinya dan anak-anaknya menuju kebaikan dunia dan akherat.. dengan apa? Dengan ILMU!

Kesimpulan. Kuliah yang rajin, karena itu amanah orangtua. Kemudian ketika kita masih punya waktu luang, jadilah aktivis, tapi aktivis yang bener, yang sholeh wa sholehah. Dan mulailah untuk mencoba berwirausaha, kecil-kecilan ndak masalah, melatih kemandirian, yakin dah kamu ndak akan tega jika terus meminta uang sama orangtua. Trus… ngaji, penting, teguk ilmu sebanyak-banyaknya.. ketika saatnya tiba, segeralah menikah, jangan pacaran..

Hemm ngantuk, begitu dulu dah saringnya, alhasil.. jadilah kamu orang sibuk! Sibuk dengan kebaikan dan kebaikan, karena jika tidak kau sibukkan dengan hal-hal yang baik, maka kamu pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang buruk.

Wallahua’lam

Referensi:

  1.  Syarh Riyaadhush Shaalihiin 1/293-294.
  2. Majalah Asy-Syari’ah
  3. Majalah Salaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s