Ahlan wasahlan.. di blognya Setyo

Faidah Mengakhirkan Sahur

“Permudahlah dan jangan kalian mempersulit, gembirakanlah dan jangan kalian menakut-nakuti.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sungguh Islam itu mudah, andaikata kita mau benar-benar berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman para sahabat generasi terdahulu, karena merekalah sebaik-baik generasi yang dididik langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mengakhirkan Sahur…
1. “Apabila seseorang dari kalian mendengar adzan (Subuh), sementara itu gelas masih di tangannya, maka janganlah ia meletakkannya hingga menyelesaikan minumnya (sahurnya, pent-).” (HR.Abu Dawud no.2333 dan HR.Al-Hakim 1/426). Menurut Kamal bin As Sayid Salim derajatnya Shahih.
2. “Pernah iqamah dikumandangkan sedangkan bejana masih di tangan Umar bin Khaththab radhiallaahu ‘anhu. Umar bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam : Apakah aku boleh meminumnya?”. Beliau menjawab : “Boleh”. Maka Umar pun meminumnya” (HR. Ibnu Jarir 3/527/3017 dengan dua sanad darinya; shahih. Lihat Silsilah Ash-Shahiihah no. 1394. Syaikh Salim al-Hilaly juga telah mensahkannya).

3. Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallâhu’anhu

رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ( إن بلال يؤذن بليل فكلوا واشربوا حتى ينادي ابن أم مكتوم ) . ثم قال وكان رجلا أعمى لا ينادي حتى يقال له أصبحت أصبحت

“Rosulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Bilal adzan di malam hari, maka makan dan minumlah kalian hingga Ibnu Ummi Maktum adzan”. Kemudian beliau shalallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta, tidaklah ia adzan hingga dikatakan kepadanya “telah masuk shubuh, telah masuk shubuh”.” (Dikeluarkan: Imam Bukhari dalam Shohih Bukhari 592 (1/223), Imam Muslim dalam Shohih Muslim 2590 (3/129), dan yang lainnya. Status hadits: Hadits Mutafaqqun’alaih).

Sisi Pendalilan

Dalam Hadits ini Rosulullah shalallahu’alaihi wa sallam memerintahkan untuk makan minum ketika mendegar adzan Bilal. Hal ini karena Bilal adzan di malam hari. Diperbolehkan makan dan minum hingga mendengar Ibnu Ummi Maktum adzan. Hal ini karena Ibnu Ummi Maktum tidaklah adzan kecuali sudah masuk waktu shubuh. Disini Rosulullah shalallahu’alaihi wa sallam tidak memerintahkan berhenti makan dan minum 10 menit atau 15 menit sebelum adzan shubuh.

4. Dari Anas dari Zaid bin Tsabit rodhiyallâhu’anhu

قَالَ تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً
Zaid bin Tsabit rodhiyallaahu’anhu berkata: “Kami telah makan sahur bersama Rosulullah shalallahu’alaihi wa sallam shalallahu’alaihi wa sallam. Kemudian kami berdiri untuk sholat.” Aku (Anas) berkata: “berapa ukuran jarak diantara keduanya (awal sahur dengan sholat shubuh)?”. Zaid bin Tsabit berkata: “(setara bacaan) 50 Ayat”.

Faidah yang utama > 

Firman Allah : “(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, nabi yang ummi yang namanya mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an), mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (Surat Al-A’raf ayat: 157).

1) Ketika berpegang teguh dengan Sunnah akan terjaga/aman dari perpecahan.
Sesungguhnya bersatu di atas amalan sunnah akan banyak mencegah dari terjatuh ke dalam perselisihan yang mengantarkan kepada permusuhan dan kebencian. Oleh karena itu, sesungguhnya masyarakat ahlus sunnah tidak didapati di dalamnya perpecahan yang tercela, yang mana nampak dengan nyata hal ini di dalam masyarakat ahlul bid’ah.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Bid’ah itu selalu diiringi dengan perpecahan, sebagaimana sunnah itu selalu diiringi dengan persatuan.” (Al-Istiqomah 1/42).Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.” (Ali ‘Imron:105).

2) Tidak mudah ngantuk, kebanyakan yang makan sahurnya 2 atau 1 jam sebelum waktu yang utama, sebelum adzan subuh biasanya ngantuk berat, makhirnya malas ke Masjid, jika ke Masjid pulang ke rumah tidur, padahal tidur setelah subuh hukumnya makruh.

3) Lebih Tahan lama menahan lapar.

4) Tidak buru-buru atau was-was, karena buru-buru sifat syaitan
Dari Anas bin Malik . berkata, Rasulullah Shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tenang merupakan sifat Allah, sedangkan tergesa-gesa merupakan sifat setan.” (HR. Al-.Baihaqi).

5) Faidah Lain.

“Sesungguhnya perbedaan antara puasa kami dengan puasa ahli kitab adalah makan sahur”. (HR.Muslim No.1096).
“Makan sahurlah, karena sesungguhnya sahur itu mengandung berkah.” (HR>Al- Bukhori: 1096).
Pertanyaannya sampai kapan batasan makan sahur itu. Kebanyakan umat Islam membatasinya dengan waktu 10 menit-15 menit jelang subuh, namanya Imsak. Buat jaga-jaga. katanya. Satpam memangnya?”.. dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yatu fajar..” (Albaqoroh:187).
Sangat jelas baik dari Al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Dari: Sukpandiar Idris Advokat As-salafy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s