Ahlan wasahlan.. di blognya Setyo

Menanti Malam 1000 Bulan

A. Keutamaan Lailatul Qodar (Malam Penuh Kemuliaan)

Pertama, lailatul qadar adalah malam penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman,
3. Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. 4. pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (QS. Ad-Dukhan: 3-4). Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana ditafsirkan pada surat Al Qadar dimana Allah Ta’ala berfirman,
“1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,
“3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga (lihat Zaadul Masiir, 9:192). Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar (lihat Zaadul Masiir, 9:194).

Kedua, Lailatul Qadar lebih baik dari 1000 bulan. An-Nakho’i mengatakan,”Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” (Lihat Latho-if Al-Ma’arif, hal. 341) Mujahid, Qotadah dan ulama lainnya berpendapat bahwa yang dimaksud lebih baik dari 1000 bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar (Zaadul Masiir, 9:191).

Ketiga, menghidupan lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabada, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam laiatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

B. Kapan lailatul qadar terjadi?

Lailatul qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil lebih memungkinkan dari pada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan berpindah-pindah dari tahun ke tahun (Fathul Bari, 4:262-266)
Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan. (Fathul Bari, 4:266)

C. Do’a di malam mulia, lailatul qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan suri tauladan kita-Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam-sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

فَاعْفُ اْلعَفْوَ تُحِبُّ عَفْوَ اِنَّكَ الَلًّهُمَّ قُوْلِى قَالَ ؟فِيْهَا لُ اَقُوْ مَا اْلقَدْرِ لَيْلَة لَيْلَةٍ أَى عَلِمْتُ اِنْ أَرَأَيْتَ اللهِ يَارَسُولَ
عَنِّي

“Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang mesti aku ucapkan saat itu?’ Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku)” (HR. Tirmidzi no. 3513, Ibnu Majah no. 3850, dan Ahmad 6: 171. Syaikh Al Albani mengatakan bahw hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “allahumma innaka ‘afuwwun..” tidak terdapat dalam satu manuskrip pun. Lihat Tarooju’at hal.39)

D. Tanda Lailatul Qadar

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-kemerahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul iman, lihat Jami’ul Ahadits 18/361. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shaihul Jami’ no. 5475)

Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak dirasakan pada hari-hari yang lain.

Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tanpa sinar yang menyorot. Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata, “Malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadhan). Dan tanda-tandanya ialah pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot.” (HR. Muslim no. 762). Shahih (Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2:149-150)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s