Ahlan wasahlan.. di blognya Setyo

Kisah Si Penyelam dan Mutiara

Oleh: Yusuf S.

Ada seorang pengusaha mutiara yang mempunyai tambak mutiara di suatu pantai yang terkenal keindahannya, airnya jernih dan banyak karang serta ikan-ikan cantik berkeliaran seolah sudah akrab dengan makhluk darat yang bernama manusia.

Suatu ketika tiba masa panen kerang mutiara. Namun karena pengusaha mutira itu mempunyai karyawan maka ia cukup memerintah salah satu karyawannya saja untuk mengambilkan mutiara di dasar laut. Maka diperintahlah salah seorang karyawannya untuk menyelam dan mengambil mutiara tersebut. Orang tersebut (si karyawan) adalah orang yang belum pernah sama sekali menyelami dalamnya laut dengan segala perlengkapan seperti tabung oksigen dan lainnya. Sehingga betapa bahagianya ketika ia mendapat tugas untuk mengambil mutiara dengan menyelami dalamnya laut.

Setelah segala perlengkapan sudah dipakai maka dengan tidak sabar akhirnya orang tersebut masuk ke dalam laut. Betapa terkejutnya ia ketika melihat laut dari dalam. Ia terheran, merasa takjub akan keindahan laut yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ia melihat ikan warna-warni berenang di sekelilingnya, ia melihat karang berlumut nan hijau, tetumbuhan yang meliuk-liuk diterpa arus ombak dasar laut, ia melihat ikan-ikan kecil yang bermain petak umpet diantara rumput-rumput laut, bahkan ia bisa bermain-main dengan hewan-hewan laut itu. Karena begitu asyiknya, begitu takjubnya ia dengan pemandangan bawah laut, ia menjadi lupa dengan tugas utamanya; mengambil mutiara sebanyak-banyaknya milik majikannya. Ia semakin asyik bermain-main dengan ikan-ikan kecil nan imut, penyu, kuda laut, dan hewan-hewan imut laut lainnya. Sementara oksigen yang ia gunakan semakin berkurang dan mendekati habis, waktu atau kesempatan yang diberikan semakin habis.
Jam pengingat yang menempel di tangannya pun mulai bergetar memberi peringatan bahwa jatah oksigen tinggal beberapa menit lagi dan ia harus bersiap-siap untuk kembali ke atas atau pantai.
Barulah ia sadar akan tugas utamanya, ia menyadari bahwa majikannya tengah menanti mutiara miliknya, sementara itu ditangannya belum ada satu mutiara pun yang harus dipersembahkan kepada sang majikan. Kemudian ia menjadi panik, ia pun asal-asalan mencari mutiara. Waktu atau kesempatan yang diberikannya seharusnya ia gunakan untuk mengambil mutiara sebanyak-banyaknya, namun ia justru terlena akan keindahan-keindahan laut. Segenggam mutiara akhirnya ia dapatkan. Namun karena waktu tinggal satu menit lagi sebelum oksigen tersebut habis maka orang tersebut segera naik guna mengambil udara dan kembali ke pantai, ia pun berenang ke atas dengan terburu-buru, namun karena ceroboh ia tidak melihat bahwa disampingnya tengah melaju dengan kencang seekor ikan besar, akhirnya ia tertubruk dan mutiara yang ia bawa dalam genggaman tangannya kemudian jatuh kembali ke dasar pantai. Ia sedih, bingung, kecewa, takut, menyesal, tapi.. apa boleh buat, waktu semakin habis, akhirnya mau tidak mau ia harus kembali ke pantai, dari pada ia mati di dasar laut karena kekurangan oksigen, dan ia tidak mendapatkan satu mutiara pun. Kamudian ketika majikannya tau bahwa ia tidak membawa apa-apa, ia telah mensia-siakan waktu menyelam yang ia berikan kepada orang tersebut, si karyawan tadi pun akhirnya di hukum, dengan hukuman yang berat karena tidak bertanggungjawab dan tidak amanah yang mengakibatkan kebangkrutan perusahaannya.

Bismillah…
Cerita diatas bukanlah sekedar dongeng untuk anak-anak agar mau makan. Sungguh cerita di atas benar-benar terjadi pada kita. Pada diri kita!!!
Apa benang merah cerita diatas dengan diri kita?
KEHIDUPAN KITA DI DUNIA!!!
Ya, cerita diatas menggambarkan kehidupan kita di dunia, bukankah kita hidup di dunia ini membawa tujuan utama? Misi utama? Bukan untuk mencari mutiara, akan tetapi untuk mencari dan mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya….. dengan amal-amal sholeh kita….

Kita diberikan jatah hidup ini hanya sekali, dengan batas waktu yang telah di tetapkan. Sama seperti orang tadi yang diberikan kesempatan oleh sang majikannya untuk mengambil mutiara sebanyak-banyaknya dan akan diberi imbalan yang banyak dengan syarat ia berhasil dan mematuhi peraturan yang ada. Namun apa yang terjadi? Ia justru terlena dengan segala pernak-pernik atau hiasan laut, ia malah asyik bermain-main dan melupakan tugas utamanya. Hingga akhirnya, ketika waktu yang diberikannya hampir habis, ia baru menyadari akan tugas utamanya untuk mencari mutiara. Jika hal ini dikaitkan dengan kehidupan kita, maka terkadang dunia melenakan kita, keindahannya yang berupa harta benda, jabatan, pangkat, dan segala perhiasan dunia lainnya bisa melenakan kita, melalaikan kita dari tugas utama kita hidup di dunia ini yakni beribadah kepada Allah, mencari keridhaan dan pahala Allah. Sungguh, banyak manusia yang baru menyadari akan tugas utamanya ini ketika masa atau jatah usia yang diberikannya hampir habis. Ketika jatah oksigen yang ia miliki hampir habis, alarm pengingat berupa usia tua, uban, tulang rapuh, lemah, ataupun alarm pengingat yang berupa MAUT, yang tak mengenal usia.

Sesungguhnya Allah telah mengabarkan akan hakekat dunia itu sendiri
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadiid: 20)

Bacalah berulang kalam dari Rabb yang mulia di atas berikut maknanya… Setelahnya, apa yang kamu pahami dari kehidupan dunia? Masihkah dunia membuaimu? Masihkah angan-anganmu melambung tuk meraih gemerlapnya? Masihkah engkau tertipu dengan kesenangannya?

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu dalam Tafsir-nya,
“Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang hakikat dunia dan apa yang ada di atasnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala terangkan akhir kesudahannya dan kesudahan penduduknya. Dunia adalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Mempermainkan tubuh dan melalaikan hati. Bukti akan hal ini didapatkan dan terjadi pada anak-anak dunia. Engkau dapati mereka menghabiskan waktu-waktu dalam umur mereka dengan sesuatu yang melalaikan hati dan melengahkan dari berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun janji (pahala dan surga, –pent.) dan ancaman (adzab dan neraka, –pent.) yang ada di hadapan, engkau lihat mereka telah menjadikan agama mereka sebagai permainan dan gurauan belaka. Berbeda halnya dengan orang yang sadar dan orang-orang yang beramal untuk akhirat. Hati mereka penuh disemarakkan dengan dzikrullah, mengenali dan mencintai-Nya. Mereka sibukkan waktu-waktu mereka dengan melakukan amalan yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah daripada membuangnya untuk sesuatu yang manfaatnya sedikit.”
Asy-Syaikh rahimahullahu melanjutkan, “Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan permisalan bagi dunia dengan hujan yang turun di atas bumi. Suburlah karenanya tumbuh-tumbuhan yang dimakan oleh manusia dan hewan. Hingga ketika bumi telah memakai perhiasan dan keindahannya, dan para penanamnya, yang cita-cita dan pandangan mereka hanya sebatas dunia, pun terkagum-kagum karenanya. Datanglah perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akhirnya tanaman itu layu, menguning, kering dan hancur. Bumi kembali kepada keadaannya semula, seakan-akan belum pernah ada tetumbuhan yang hijau di atasnya. Demikianlah dunia. Tatkala pemiliknya bermegah-megahan dengannya, apa saja yang ia inginkan dari tuntutan dunia dapat ia peroleh. Apa saja perkara dunia yang ia tuju, ia dapatkan pintu-pintunya terbuka. Namun tiba-tiba ketetapan takdir menimpanya berupa hilangnya dunianya dari tangannya. Hilangnya kekuasaannya… Jadilah ia meninggalkan dunia dengan tangan kosong, tidak ada bekal yang dibawanya kecuali kain kafan….” (Tafsir Al-Karimirir Rahman, hal. 841)

Suatu ketika Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar. Ketika bangkit dari tidurnya tikar tersebut meninggalkan bekas pada tubuh beliau. Berkatalah para shahabat yang menyaksikan hal itu, “Wahai Rasulullah, seandainya boleh kami siapkan untukmu kasur yang empuk!” Beliau menjawab:
“Ada kecintaan apa aku dengan dunia? Aku di dunia ini tidak lain kecuali seperti seorang pengendara yang mencari teteduhan di bawah pohon, lalu beristirahat, kemudian meninggalkannya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2377, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih At-Tirmidzi)
Demikianlah nilai dunia, wahai saudariku. Dan tergambar bagimu bagaimana orang-orang yang bertakwa lagi cendikia itu mengarungi dunia mereka. Mereka enggan untuk tenggelam di dalamnya, karena dunia hanyalah tempat penyeberangan… Di ujung sana menanti negeri keabadian yang keutamaannya tiada terbandingi dengan dunia.
Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah dunia bila dibandingkan dengan akhirat kecuali hanya semisal salah seorang dari kalian memasukkan sebuah jarinya ke dalam lautan. Maka hendaklah ia melihat apa yang dibawa oleh jari tersebut ketika diangkat?” (HR. Muslim no. 7126)

Maka, masihkah kita ingin terus bermain-main dengan ikan? Atau kita akan bersegera dalam mencari dan mengumpulkan mutiara sebanyak-banyaknya? 

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab..

Selesai ditulis: Pekalongan, 28 Ramadhan 1433 H
Referensi: Buletin Asy-Syari’ah: Jangan Terpikat dengan Dunia!

Zadanallah ilman wa hirsha

2 responses

  1. assalamu’alaikum tank’s ts tag nya ya ahuwa..

    January 2, 2013 at 5:19 am

    • muryosetyo

      wa’alaykumussalam…
      ‘afwan

      January 2, 2013 at 10:53 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s